CERPEN : TUGAS BAHASA INDONESIA
Pengamen Cilik di Dalam Angkot
Sary meringis melihat seorang
anak jalanan memasuki angkot yang ditumpanginnya. Bau yang tidak sedapakan
segera memenuhi udara angkot. Sary menaruh tangannya di atas hidung, berusaha
mengurangi bau yang sangat menusuk hidungnya itu. Bau seperti ini sangat
dihapalnya. Karena itu lah, ia sangat kesal melihat ada anak jalanan yang
mengamen di angkot yang ditumpanginnya.
Malam ini ku
sendiri
ada
yang menemani
Seperti
malam-malam
Yang
sudah-sudah ….
Lagu Munajat Cinta dari The Rock
dinyanyikan dengn suara cempreng, namun dengan penuh penghayatan. Sary
mengasihi uang lima ratus rupiah pada bocah yang berumur sekitar delapan
tahunan itu. Berharap ia segera meninggalkan angkot yang ditumpangin Sary,
sehingga ia bisa terbebas dari bau yang menyesakkan ini. Diam-diam disesalinya
rencana Ayah yang ingin melatih Sary untuk belajar mandiri. Mengapa Ayah merasa
perlu untuk memintanya naik angkot berangkat dan pulang sekolah, padahal Pak
Ujang siap mengantarnya setiap hari? Ia bisa duduk manis di mobil ber-AC yang
selalu wangi dan nyaman. Sary memang sangat mencitai kebersihan dan aroma yang
wangi, karena itu ia merasa benci dipaksa berada dalam situasi yang membuatnya
sesak napas oleh bau yang tak sedap. Bukannya Sary anti pada anak jalanan, tapi
ia memang tidak tahan dengan baunya itu. Entah apa yang menyebabkan mereka bau.
Apakah jarang mandi? Apa bajunya yang tidak pernah diganti? Atau asap, atau
teriknya sinar matahari dan debu jalanan yang terlalu banyak menempel di tubuh
mereka?
“Tolong deh, Ayah, hentikan rencana mu ini. Sary
sudah nggak tahan. Bisa-bisa Sary kena penyakit pernapasan…!”
“Nggak boleh gitu, Ry. Kamu perlu belajar persoalan
hidup mereka. Ayah tidak mau kamu jadi anak yang manja karena terbiasa hidup
enak dengan fasilitas yang Ayah berikan kepada mu. Bagaimana kamu bisa kalau
setelah dewasa nanti kamu harus menghadapi persoalan hidup yang lebih berat
lagi…!”
“Ayah dapat teori ini dari mana, sih? Sary nggak bisa
seperti ini terlalu lama.”
“Sary tidak perlu belajar dari ini semua, sary udah
tahu kok. Sary bisa belajar dari pendidikan yang baik, sehingga lebih unggul
dari orang lainnya. Pokoknya, dua minggu sudah cukup untuk menghirup bau itu
dari angkot, Ayah. Mulai besok, Sary mau pulang-pergi sekolah dengan cara biasa
lagi.”
“Tidak bisa! Buktinya kamu nggak bisa lepas dari
mobil bersih dan wangi yang mengantarmu ke sekolah? Ayah tidak mau tahu, kamu
harus selesaikan satu bulan untuk naik angkot. Kecuali kamu punya cukup uang
untuk naik taksi setiap hari.” Ayah meninggalkan Sary yang masih melongo di
meja makan tanpa sempat melanjutkan bantahan.
Sary berpikir keras bagaimana ia harus melewati dua
minggu terakhir naik angkot. Dua minggu pertama saja ia sudah merasa tidak
tahan. Apalagi rute angkot yang harus ditumpanginya sangat digemari
para oleh anak jalanan. Untuk sampai di sekolahnya, Sary hanya naik angkot
sekali, dengan jarak kurang dari tujuh kilometer, namun tiada hari tanpa
seorang pengamen cilik di dalam angkotnya.
Padahal Sary merasa selama ini ia termasuk anak
baik, tidak pernah berbuat ulah yang aneh-aneh di sekolah. Nilai sekolahnya
selalu bagus, dan ia tidak pernah berantem atau bolos. Sary juga tidak pernah
belanja gila-gilaan dan membuat kartu kredit dari Ayah menjadi over limit.
Hari ini, Sary membawa tisu basah yang wangi untuk
menghindari serbuan bau tak enak itu. Mudah-mudahan apa yang dilakukan Sary
tidak mencolok bagi penumpang lainnya. Mengapa penumpang lainnya tidak
seterganggu dirinya pada bau yang berhamburan dari tubuh anak jalanan itu.
Apakah mereka sudah terbiasa dengan bau seperti itu, sehingga hidung mereka
menjadi kebal?
Sary berangkat sekolah tanpa mengucapkan salam
kepada Ayah dan Mama. Ini bentuk protes dari Sary karena mereka membuatnya
terjebak dalam kondisi yang mengesalkan.
Sary memasuki angkot dengan hati deg-degan. Ia
berdoa dalam hati agar hari ini para anak jalanan meliburkan diri dan tidak
mengamen diangkotnya. Sary memasuki angkot dan memilih tempat duduk paling
belakang, agar tidak terlalu berdekatan dengan si pengamen bocah itu.
Namun, rupanya doa Sary belum terkabul. Seorang
bocah dekil masuk ke angkot yang ditumpanginya. Yang membuat Sary kaget, bocah
itu ternyata masih sangat kecil. Rasanya bocah itu belum berumur lima tahun,
mungkin baru empat tahunan. Yang lebih membuat Sary kaget, wajah bocah itu
sangat mirip dengan aditnya, Dodi. Dodi yang selalu bermain di dalam rumah, dan
tertawa oleh mainannya yang berlimpah. Dan bocah seumuran Dodi yang berbau tak
sedap kini bersiap-siap untuk mengamen.
Belum sempat ia mengamen, terdengar teriakan keras
dari seorang anak berbadan besar dari bagian samping angkot. “Turun…!” kata si
anak besar sambil menggedor bagian samping angkot. Para penumpang kebingungan
melihat adegan ini.
Tiba-tiba lampu merah berganti hijau dan supir
angkot mengemudi mobilnya dengan agak ngebut. Sempurnalah ketakutan di hati si
bocah. Ia menangis keras dan membuat para menumpang memanggil-manggil si supir
agar menghentikan mobil karena si bocah hendak ingin turun. Sary masih sempat
menyerahkan satu kotak susu pada bocah itu dan merasa lega karenanya. Ia
melihat bocah itu berjalan menjauh sambil membuka kotak susu itu dan
meminumnya. Oh Tuhan, insiden di angkot hari ini membuat hati Sary
sangat sedih.
Dari dulu pun ia prihatin pada nasib anak-anak
jalanan, namun belum pernah dilihatnya bocah sekecil Dodi mengamen sendirian
dan ketakutan di tengah keganasan jalanan. Siapakah yang begitu tega membiarkan
si bocah bertarung dalam kehidupan yang begitu keras? Orang tuanya kah?
Akan tetapi apa yang dilihatnya pagi ini, mau tidak
mau membuat Sary berpikir ulang tentang rencana Ayah-nya itu.
Seminggu terakhir menjalani ritual naik
angkot, Sary tidak lagi sejutek sebelumnya. Sekalipun ia masih terganggu pada
bau yang dari anak-anak jalanan yang memasuki angkotnya, perhatian Sary tidak
lagi terpusat pada bau itu. Ia mulai mengamati perilaku anak-anak jalanan itu,
mulai dari usia, pakaian, rambut dan gerak-geriknya.
Sary jadi berpikir tenteng ketegasan Ayah
memintanya naik angkot selama sebulan. Apakah ini yang dimaksud Ayah belajar
dari anak-anak jalanan itu? Sary mengakui kebenaran pendapat Ayah. Selama ini
Sary hanya melihat anak-anak jalanan dari kejauhan, namun setelah ia naik
angkot, Sary bisa melihat kehidupan mereka dari dekat dan bisa memahami masalah
yang mereka hadapi. Dengan begitu, Sary menjadi ingin berbuat sesuatu untuk
mereka sekaligus bisa semakin bersyukur pada kehidupannya yang jauh lebih baik
dari mereka. Terma kasih Ayah…
SELESAI
Comments
Post a Comment